Pada kebanyakan kasus, trading dengan mengikuti tren di Forex dianggap lebih ramah resiko dan lebih menguntungkan. Tentu saja, jika Anda melihat sebuah uptrend atau downtrend bergerak mulai dari garis tren atau moving average dengan pullback yang kecil—yang seakan-akan bergerak di dalam kanal/channel—maka Anda hanya harus membuka perdagangan sejalan dengan tren.

Namun, jika terdapat pergerakan zigzag yang sulit dimengerti di pasar, maka selagi Anda menunggu agar formasi trennya terbentuk dengan jelas, Anda mungkin saja kehilangan kesempatan membuat keuntungan. Apalagi jika pergerakan tersebut berlanjut hingga lebih dari satu bulan. Pada kasus seperti ini, Anda bisa melakukan trading melawan tren utama dengan hati-hati. Ada beberapa strategi melawan arus tren seperti yang telah disusun dibawah ini.

1. Trading saat Koreksi/Correction

Pergerakan tren yang kuat biasanya digantikan oleh koreksi, dan mereka juga bisa digunakan untuk mendapatkan profit. Hal ini biasanya terjadi setelah perilisan data-data penting, dimana harga mulanya bergegas masuk ke arah tren utama dan kemudian terjadi koreksi. Pola ini digunakan oleh trader yang melakukan trading pada perilisan data ekonomi.

Pertama-tama, mereka membuka entry yang sejalur dengan arah dorongan keadaan ekonomi dan saat pergerakan harga tersebut sampai pada batasnya, mereka menutup posisi dan membuka posisi trading pada arah yang berlawanan, meningkatkan profit mereka. Jika Anda ingin melakukan trading dengan cara seperti ini, Anda harus ingat bahwa koreksi selalu terjadi dengan ukuran yang lebih kecil dari pergerakan tren, jadi Anda harus mematok tujuan minimum untuk mendapatkan keuntungan.

2. Strategi Scalping

Bagi scalper, pergerakan harga apapun patut untuk di trade, termasuk trading melawan arus tren. Karena scalper mengambil untung kecil dan durasi transaksinya tidak lebih dari 5-10 menit, mereka bisa dengan sukses trading searah atau berlawanan arah dengan tren.

3. Trade dalam Kanal/Channel

Terkadang harga bergerak pada kanal naik atau kanal turun, mulai dari batas paling atas maupun batas paling bawah. Pada argumen ini, Anda bisa membuka posisi di kedua arah tanpa memikirkan tren utama. Satu-satunya perbedaan adalah ukuran take profit order. Take profit Anda harus lebih besar jika Anda melakukan trading di arah tren, dan ketimbang melawan arah tren.

4. Trading dengan Menggunakan Osilator

Anda juga bisa melakukan trading dengan mengandalkan osilator. Contoh yang bisa digunakan adalah osilator stochastic. Saat garis stochastic berpotongan dalam zona overbought, para trader akan melakukan sell; dan setelah perpotongan garis stochastic di zona oversold, para trader akan melakukan buy. Anda bisa membaca lebih lanjut mengenai sinyal stochastic dan osilator lainnya pada topik tentang “Oscillator in Action”.

5. Mencari Pola Reversal Pada Grafik

Dari waktu ke waktu, tren saat ini berakhir dan berbalik. Jika Anda bisa menghentikan situasi ini pada waktu yang tepat, hal ini bisa membawa banyak profit bagi Anda. Namun, keadaan seperti ini sangat jarang sekali terjadi dan trading melawan tren bisa menyebabkan kerugian besar.

Jika Anda ingin melakukan trading melawan tren dengan sukses dan menguntungkan, Anda harus memperhatikan perbedaan kecil berikut :

  • Kemungkinan melakukan trading jika ada level support dan resistance.

  • Sebelum melakukan trading, perhatikan kerangka waktu yang lebih tinggi.

  • Perhatikan formasi pola reversal.

  • Sebelum Anda melakukan trading, tunggulah hingga konfirmasi dalam bentuk pengujian level.

  • Tetapkan take profit kecil saat melakukan trading melawan tren.

  • Trading melawan tren membutuhkan penggunaan pending order.

Artikel terkait