Faktor penting yang paling bisa mempengaruhi nilai suatu mata uang mungkin adalah kebijakan yang dimiliki oleh bank sentral suatu negara. Tujuannya adalah untuk mempengaruhi tarif domestik, yang pada akhirnya akan mempengaruhi aktifitas perekonomian secara keseluruhan. Tingkat suku bunga yang lebih rendah biasanya mendorong peminjaman, investasi dan juga konsumsi; sementara tingkat suku bunga yang tinggi mengurangi peminjaman dan konsumsi.

Intervensi pada mata uang mengharuskan suatu bank sentral untuk membeli atau menjual mata uangnya sendiri sebagai cara memperbaiki nilai tukar. Cara ini merupakan cara untuk mengendalikan inflasi dan permintaan ekspor impor serta menjaga kestabilan nilai tukar. Intervensi ini memiliki beberapa arti bagi trader dengan berbagai tipe, yaitu:

  • Bagi trader jangka pendek, intervensi berarti pergerakan intraday yang besar, terkadang bisa mencapai 150-200 pip dalam hitungan menit.

  • Bagi trader jangka menengah/panjang, intervensi berarti merupakan sinyal perubahan tren jika suatu bank merubah sikapnya dan mengirimkan pesan berbeda ke pasar.

Kebijakan Moneter Bank Sentral dan Pasar FX

Kebijakan moneter yang digunakan oleh bank sentral masuk ke dalam dua kategori: ekspansif dan restriktif.

Kebijakan moneter ekspansif:

Kebijakan ini dikenal juga dengan istilah akomodatif, yaitu ditujukan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi, dengan menurunkan tingkat suku bunga. Cara lainnya adalah dengan menaikkan suplai uang yang akan berujung pada menurunnya biaya peminjaman.

Kebijakan moneter restriktif:

Kebijakan ini bertujuan untuk memperlambat laju pertumbuhan ekonomi atau melawan inflasi dengan menaikkan tingkat suku bunga. Kebijakan ini dikenal juga dengan “pengencangan“ dan digunakan pada saat perekonomian berkembang terlalu pesat. Jika terlalu banyak uang yang beredar dan terlalu sedikit barang yang dibeli, harga akan mulai naik dan bank sentral harus mencegah inflasi tersebut.

Berdasarkan dua jenis intervensi tersebut, maka ada dua jenis intervensi pada nilai tukar: disterilkan dan tidak disterilkan.

Intervensi yang disterilkan (Sterilized Intervention):

Intervensi ini tidak akan berpengaruh pada suplai uang. Disebut “disterilkan“ karena disamping membeli dan menjual mata uang, intervensi ini juga melibatkan satu tahap tambahan, yaitu penjualan sekuritas negara untuk mengimbangi penambahan cadangan yang terjadi akibat intervensi. Pengaruh dari intervensi ini biasanya dalam jangka pendek-menengah.

Intervensi yang tidak disterilkan (Unsterilized Invention):

Jenis intervensi ini merujuk pada pembelian atau penjualan mata uang nasional dengan mata uang asing. Pengaruhnya bisa dilihat pada semua level perekonomian, selain di pasar valuta asing. Sebagai konsekuensinya, perbaikan lain harus dibuat (seperti pada tingkat suku bunga, pada harga, dan lain sebagainya). Intervensi ini memiliki dampak jangka panjang.

Mengapa Trader-Trader Forex Harus Memperhatikan Kepala Bank Sentral?

Bukan hanya bank-bank sentral yang bisa mempengaruhi pasar Forex, tapi kepala dari bank-bank sentral juga. Kepala bank-bank sentral di Amerika, China, Eropa dan Jepang memiliki dampak besar berkenaan dengan arah mata uang. Untuk mempermudahnya, kami telah menyediakan daftar dari bankir-bankir bank sentral:

  • Mario Draghi - European Central Bank

  • Mark Carney - Gubernur Bank of England

  • Jerome Powell – Ketua Federal Reserve Board, Amerika Serikat

  • Haruhiko Kuroda - Gubernur Bank of Japan

  • Philip Lowe - Gubernur Reserve Bank of Australia

  • Stephen S. Poloz - Gubernur Bank of Canada

Para partisipan pasar Forex memperhatikan pergerakan dan perkataan para kepala-kepala bank tersebut. Terutama pada saat kepala-kepala bank ini memberikan pidato, saat wawancara maupun memberikan informasi secara publik.

Artikel terkait